COMPLAINT : GOJEK

Bismillahirrahmanirrahim.

Baiklah, tulisan ini bukan maksudnya membuka aib orang atau gimana ya, tapi harapannya supaya bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Jadi, saya termasuk pelanggan Gojek, semenjak aplikasi ini ada di Indonesia, ga sering-sering amat sih makenya, klo kepepet atau pulang malem aja, dan saya termasuk pengguna yang konvensional. Saya ga pernah top up saldo GO PAY saya selama ini, tapi semenjak saya tahu ada diskon 50% kalau menggunakan GO PAY, akhirnya saya terbujuk rayuan itu, dan pertama kalinya saya top up saldo GO PAY adalah pada hari Rabu, 16 November 2016, jam 16:16:58, sebesar Rp 50.000.

Harapan saya, saya diuntungkan, tetapi kenyataannya, SAYA DIRUGIKAN!!!

Silakan cermati kronologinya di bawah ini.

KRONOLOGI.

1. Pertama kali saya Top Up Saldo GO PAY pada hari Rabu, 16 November 2016 jam 16:16:58, sebesar Rp 50.000.

1-top-up-go-pay-50rb-16-nov-2016-jam-16-16-58

2. Saya pakai ke Grand Dhika City dengan Driver Irwan Rivai (Order No: 251804348) sebesar Rp 8.000.

2-irwan-rivai-8rb-16-nov-2016-jam-17-26

3. Nah, seharusnya sisanya kan Rp 50.000 – Rp 8.000 = Rp 42.000 ya. TAPI, KECEWAnya saya, saat saya ingin menggunakan Gojek lagi keesokan harinya (17 November 2016, sekitar jam 6.29 AM) masa out of nowhere sisa Rp. 16.000 ??? Padahal saya belum pernah make service Gojek lagi. Berarti saya sudah DIRUGIKAN RP 26.000 (Rp 42.000 – Rp 16.000)!!!

3-sisa-saldo-gopay-16rb-17-nov-2016-jam-6-29-am

4. Ini bukti History Gojek saya.

4-history-gojek-16-17-nov-2016

5. Dengan perasaan gondok dan sisa saldo GO PAY Rp 16.000, saya memesan service Gojek lagi dengan tujuan kantor saya, Weatherford Indonesia, dengan Driver Kukuh Jati Waluyo (Order No: 252126445) sebesar Rp 7.000.

5-kukuh-jati-7rb-17-nov-2016-jam-06-30-am

6. Saat sudah selesai dan saya sampai kantor, 17 November 2016 jam 06:59 AM, langsung saya cek lagi, Alhamdulillah masih normal, sisa saldo tertera Rp 16.000 – Rp 7.000 = Rp 9.000. OK.

6-sisa-saldo-gopay-9rb-17-nov-2016-jam-6-59-am-ok

7. Sorenya, saya ingin pulang kantor menggunakan service Gojek lagi, maka saya memesan untuk tujuan Grand Dhika City, 17 November 2016 jam 16:08, dengan Driver Alwin Harta (Order No: 252520805) sebesar Rp 8.000.

7-alwin-harta-8rb-17-nov-2016-jam-16-08

8. Setelah selesai, saya cek saldo GO PAY saya per 17 November 2016, sisa Rp 1.000. Karena memang Rp 9.000 – Rp 8.000 = Rp 1.000. OK.

8-sisa-saldo-gopay-1rb-17-nov-2016-jam-17-37-ok

9. Setelah itu saya berniat belum menggunakan service Gojek lagi sampai uang Rp 26.000 saya kembali, tapi saya telepon ke Nomor Gojek yang tertera di Website-nya tidak nyambung ataupun tidak diangkat. Lalu, saya bertanya ke senior saya yang pernah mengalami issue juga dengan Gojek, dan beliau menyarankan untuk menghubungi CS Gojek via twitter karena katanya lebih responsif.

10. Mulai 17 Nov 2016 – 23 November 2016 kemarin saya DM-DMan dengan CS Gojek di twitter, responsif lumayanlah, tapi tidak menyelesaikan masalah, sehingga karena via twitter ga beres2, saya minta email CS-nya Gojek supaya saya bisa menumpahruahkan komplain saya dengan sejelas-jelasnya beserta buktinya. Oh, yes dan pasti ini akan saya tulis di Blog saya juga, udah saking sebelnya.

11. Nah, kemarin, Rabu, 23 November 2016 sore, saya dengan terpaksa top up Saldo GO PAY lagi Rp 50.000 (23 November 2016 jam 17:38:07), bukan untuk digunakan langsung sore itu, rencananya baru akan saya gunakan besok pagi untuk berangkat ke kantor dari Kalibata ke kantor saya, Weatherford Indonesia.

9-top-up-go-pay-50rb-23-nov-2016-jam-17-38-07

12. Top Up berhasil, saldo GO PAY saya Rp 51.000 per 23 November 2016, jam 17:38 (OK).

10-sisa-saldo-gopay-51rb-23-nov-2016-jam-17-38-ok

13. SUPERNGAWURnya lagi, saat tadi pagi saya ingin berangkat kantor dengan menggunakan service Gojek, out of nowhere SALDO saya sisa RP 1.000!!! WHAT!!! Hilang Rp 50.000 lagi. GILA. Berarti sampai saat ini, saya sudah DIRUGIKAN GOJEK = Rp 26.000 + Rp 50.000 = Rp 76.000!!!

11-sisa-saldo-gopay-1rb-24nov-2016-jam-07-54-am

14. Karena saya udah telat akibat drama dengan system Gojek ini, dengan super-duper gondok saya terpaksa langsung top up lagi, karena udah buru2 banget saya ke kantor untuk nyiapin tender, saya top up lagi Rp 50.000 pagi tadi, Kamis, 24 November 2016, jam 08:34 AM, saldo saya jadi Rp 51.000 lagi (OK).

12-top-up-go-pay-50rb-24-nov-2016-jam-08-33-53

13-sisa-saldo-gopay-51rb-24nov-2016-jam-08-34-am

15. Lalu saya berangkat dari Kalibata ke Weatherford Indonesia dengan Driver Haryogi Haryo Prayogo (Order No: R-819959776) sebesar Rp 20.000 (Ini juga rada aneh sih, katanya diskon 50% ya, tapi itu dari Rp 30.000 malah jadi Rp 20.000, bukan Rp 15.000, apa maksimal pemotongan RP 10.000?).

14-haryogi-haryo-20rb-24-nov-2016-jam-08-34-am

16. Setelah saya sampai kantor, saya cek, saldo saya sisa Rp 31.000 (Rp 51.000 – Rp 20.000). OK.

15-sisa-saldo-gopay-31rb-24nov-2016-jam-10-53-am-ok

17. Nah, sore ini, Kamis 24 November 2016, jam 14:23, saat saya ingin buat email yang ke CS Gojek, saya kan buka aplikasi Gojek lagi, nah out of nowhere sekarang tiba-tiba saldo GO PAY saya SISA Rp 5.000!!! TIBA-TIBA HILANG BERKURANG LAGI Rp 26.000. Berarti TOTAL KERUGIAN SAYA OLEH GOJEK hingga Jam 15:25 saat saya menulis complain ini adalah Rp 26.000 + Rp 50.000 + Rp 26.000 = RP 102.000!!!

17-sisa-saldo-gopay-5rb-24nov-2016-jam-14-23

Semua bukti saya attach urut per nomor, silakan dicek.

Ini history penggunaan Gojek saya dari 16 November 2016 – 24 November 2016.

16-history-gojek-16-24-nov-2016

Saya percaya sih, sebenarnya mungkin Gojek ga ada niat ngilangin duit customer-nya, paling kesalahan sistem dan teknis. Soalnya, aplikasi Gojek saya suka sign out sendiri, dan setiap sign in, pasti duit GO PAY saya ada yang hilang. Semoga tulisan ini sampe ya ke Gojek dan bos-bosnya disana, soalnya seinget saya ada temen-temen sealumni saya yang kerja di Gojek juga sih, semoga dibaca deh. Soalnya ga saya doang lho ya, di kantor saya udah ada 2 orang yang masalahnya kayak gini juga, ada yang top up Rp 200.000 tapi baru masuk setelah seminggu ke depannya, itu pun setelah dikomplain.

Tuntutan saya? Jangan pakai alasan segala macem, klo hanya sekali masih okelah klo kalian mau alasan, klo udah sampai 3x kayak gini dan saya sertakan semua buktinya, jangan alasan, MINTA MAAF DAN KEMBALIKAN UANG SAYA RP 102.000 dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.

YES, ini bukan masalah duit Rp 102.000, ini masalah prinsip bagaimana seharusnya perusahaan jasa melayani customer-nya.

Pelanggan yang dikecewakan,

Muhammad Syauqy Nailul Author

081291026595

Komplain ini dapat juga dibaca di: http://www.kompasiana.com/uqyauthor/complaint-gojek_5836ab2d329773d52a5ae891

EDIT :

img_1825

Per 25 November 2016, jam 16:03, saldo saya sudah bertambah Rp 102.000, sekarang menjadi Rp 107.000, tadi ditelepon sama CS Gojek, namanya Mas Syafii, suruh Sign Out dulu, terus account saya dihapus dulu sama Gojek, saya diminta sign up ulang, ganti password, dll, akhirnya balik lagi. Jadi, menurut data Go-Jek, saldo Go-Pay saya ada yang make untuk fitur Go-Pulsa-nya, dan itu bukan saya karena memang pulsa saya ga nambah, makanya saya langsung ganti password email, password Go-Jek, dan Facebook saya.

Thanks Go-Jek dan semuanya. 🙂

Semoga ga kejadian lagi deh. Aamiin.

Nama Saya Uqy, yang Kalian Panggil Muslim Cicak

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

 

Sudah lama rasanya tidak menulis isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Acara demonstrasi 4 November 2016 inilah yang membuat saya ingin berbagi pendapat. Demonstrasi ini meresahkan banyak orang. Bukan tanpa bukti saya menulis ini., kantor saya saja sudah mengeluarkan security alert, contoh lain, teman-teman adik saya yang keturunan Chinese (maaf, tidak bermaksud SARA), bahkan berniat untuk meminta izin agar jadwal seminar keprofesian yang seharusnya diadakan setiap Jum’at di daerah Kuningan untuk ditiadakan dan diganti ke hari lain, karena takut ada apa-apa, seminimal-minimalnya macet parah. Mengganggu ketertiban umum.

 

Sikap saya sribadi, sebagai umat muslim aliran selow dan cerdas ceria di Indonesia, dalam memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan agama dalam hal isu kebangsaan, biasanya saya selalu melihat sikap dari dua golongan terbesar yang menjaga keutuhan NKRI sedari dulu, Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU). Dua organisasi yang didirikan dari kedua ulama jagoan saya, Sang Pencerah Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Hadrotus Syeikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari.

 

Epic-nya, kedua golongan ini sepakat, bahwa tidak boleh ada atribut keduanya dalam demo nanti , seperti yang dilansir detik.com, 30 Oktober 2016, berdasarkan ucapan Pak Haedar Nashir dan Pak Said Aqil Siradj. Alhamdulillah, Indonesia masih diberkahi Allah SWT dengan adanya dua organisasi hebat ini.

Muhammadiyah sendiri tampaknya sudah sangat yakin dengan sikapnya ini, bahkan dalam acara
“Mata Najwa” yang tayang Rabu, 2 November 2016, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed, memantapkan bahwa Muhammadiyah, seperti yang sebelum-sebelumnya, akan banyak fokus menangani hal-hal sosial, Pak Mu’ti menyebutkan untuk fokus membantu banjir di Garut ketimbang ikut memusingkan masalah demo. Subhanallah. Biasanya, jika para pimpinan Muhammadiyah sudah menentukan sikap, anggota Muhammadiyah yang memiliki rasa ta’dhim yang tinggi, akan langsung setuju dan menghormati keputusan organisasinya.

Namun hal itu mungkin akan sulit terjadi di masa sekarang ini pada organisasi hebat yang satu lagi, Nahdhatul Ulama. Dinamika yang ada di dalam tubuh NU akhir-akhir ini memang cukup luar biasa, tiba-tiba muncul golongan yang mengaku NU Garis Lurus lah, NU pro Gus Dur, NU pro Idrus Ramli, NU pro Said Aqil Siradj, NU sekaligus FPI, NU pro Habaib, dan lain sebagainya. Konflik internal yang timbul menjadi lebih ramai dibandingkan NU di masa yang lalu. Walaupun Ketua JATMAN, Habib Lutfi, sudah mengatakan, bahwa sedari dulu, NU ya tetap NU, NU yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari.

Rumitnya bagi saya dalam menyampaikan pendapat dalam tulisan ini adalah, saya tidak bisa mengutip kata-kata para pentolan penjaga perdamaian di Indonesia dari dua organisasi tersebut, seperti Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ataupun KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Karena, jika saya menyampaikan pendapat berdasarkan pendapat dan sikap beliau berdua yang menurut sebagian kelompok adalah “sekedar budayawan”, pertama akan banyak alasan seperti “Ah, mereka itu bukan ulama, mereka itu liberal, sekuler, Syi’ah, antek asing!”, atau tuduhan lainnya. Ya, mereka yang menuduh seperti ini mayoritas adalah mereka juga yang menghina ulama sekelas Prof. Quraish Shihab. Kedua, saya akan dicap memiliki fitur auto-sekuler, auto-liberal, auto-Syi’ah,  auto-Yahudi, dan lain sebagainya dalam diri saya.

Sebelum saya menyampaikan sikap dan pendapat saya, perlu rasanya saya membahas tentang FPI, organisasi yang paling vokal dalam mendukung demonstrasi 4 November 2016 ini. Harus diakui, FPI secara kultur lebih dekat dengan NU daripada ke Muhammadiyah. Tak jarang anggota FPI dan NU beririsan. Walaupun seperti itu, konflik di dalamnya bukan main ribetnya. Secara mudah, dalam hubungan NU dan FPI dapat diklasifikasikan sebagai golongan yang pro kepada Gus Dur (juga biasanya mendukung KH. Said Aqil Siradj dan Gus Mus), versus golongan yang pro kepada Habib Rizieq (biasanya mengaku sebagai NU Garis Lurus dan biasanya sering mengatakan Gus Dur, KH. Said Aqil Siradj, dan Gus Mus sebagai agen liberal ataupun antek Syi’ah).

Muhammadiyah dan anggotanya sudah jelas sikapnya. Tinggal sikap dari NU dan anggotanya yang terpecah menjadi dua golongan yang saya sebut di atas. Dengan adanya dua golongan yang masing-masing memiliki jutaan simpatisan, perlulah bagi mereka untuk mendengar satu pendapat/perintah/sikap dari orang yang dihormati kedua golongan tersebut. Harus ada sosok yang sangat dihormati tidak hanya dari golongan NU pro Gus Dur dan KH. Said Aqil Siradj saja, tetapi juga sosok yang di hormati Habib Rizieq dan kelompoknya.

Itulah beliau, Habib Umar bin Hafiz.

Alhamdulillah, Senin, 31 Oktober 2016 kemarin, saya berkesempatan datang ke Istiqlal untuk mendengar ceramah beliau. Mayoritas isi acaranya sebenarnya adalah sholawatan dan memuji nama Kanjeng Nabi Muhammad SAW, tapi menjadi begitu istimewa, karena Habib Umar datang.

Gelar beliau ini tidak main-main, Guru Mulia.

Tapi sebelumnya, mungkin banyak yang bertanya-tanya, siapakah Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz ini?

Hmm.. Bagaimana saya menjelaskannya ya. Jika dilihat dari banyaknya tokoh yang datang kemarin, sebut saja mulai dari ketua PWNU Jawa Barat, Habib-Habib Majelis Rasululllah SAW yang punya jutaan pengikut, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansyur, hingga Panglima TNI Republik Indonesia, Jend. Gatot Nurmantyo, dapat kita ketahui bahwa beliau ini bukan orang sembarangan.

Bukan, mereka datang bukan sebagai kapasitas pembicara yang satu panggung dengam Guru Mulia. Nama-nama besar yang saya sebutkan adalah para pecinta beliau. Semua yang datang ingin mengambil berkah dari beliau. Habib Umar bin Hafiz ini orang yang tangannya dicium berulang kali oleh Jend. Gatot Nurmantyo, Ustadz Yusuf Mansyur, dan Ustadz Arifin Ilham, bahkan Ustadz Yusuf Mansyur sampai menangis saat mencium tangannya.

Anda tahu Presiden negara Chechnya, Ramzan Kadyrov, salah satu presiden muslim terkuat di dunia, mencium tangan siapa? Habib Ali Al Jifri.

Siapa Habib Ali Al Jifri ini? Yes, beliau yang punya jutaan pengikut di dunia ini adalah murid sekaligus orang yang denga tawadhu mencium tangan Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz dalam setiap kesempatan mereka bertemu.

Singkat cerita, beliau adalah guru dari para guru dari para guru dari para gurunya umat Islam di dunia ini di zaman sekarang.

Berkali-kali Ustadz Arifin Ilham dalam kesempatan kemarin, saat dipersilakan memberi sambutan oleh Habib Umar, berkata “Kita, Indonesia pada umumnya, dan yang datang ke Istiqlal malam ini, harus banyak bersyukur kepada Allah SWT. Habib Umar dapat berada di tengah-tengah kita yang hina ini.”

Agenda saya sendiri datang ke Istiqlal kemarin selain mengharap barokahnya, dalam hati menunggu-nunggu, semoga Habib Umar memberikan sikapnya terkait tanggal 4 November 2016 ini. Bukan apa-apa, tahun 2008 yang lalu juga tadinya akan sempat ada demo untuk membubarkan Ahmadiyah. Namun dulu, Habib Umar lewat Habib Munzir (pendiri Majelis Rasulullah yang memiliki jutaan pengikut) berkata,

“Sampaikan pada kyai-kyai kita dan para ulama kita dan semua orang-orang yang mengenalku, katakan bahwa Umar mengatakan hal ini, untuk menarik diri, “la yatada’u biha lil-amr” mundur dari segala acara seperti itu. Tugas kita adalah “ittaqullah wa da’wah ilallah la ghaira dzalik” tugas kita adalah taqwa kepada Allah dan memperluas dakwah Allah Swt., tidak lebih dari itu dari gerakan-gerakan muslimin.

Demikian intruksi langsung dari beliau. Oleh sebab itu saya mohon hadirin-hadirat menahan diri untuk berangkat, acara apapun mengatasnamakan demo atau unjuk rasa. Jadi mereka yang akan berangkat saya harap jangan pakai atribut Majelis Rasulullah Saw., jangan sampai terlihat ada bendera Majelis Rasulullah Saw.”

Pssst. And, just like that. Damai langsung. Tidak ada yang berani membantah.

Nah, Senin kemarin ini sebenarnya, saya deg-degan pake banget. Bukan apa-apa, dari dulu saya selalu berpatokan kepada sikap Muhammadiyah dan NU dalam kaitannya dengan keagamaan dalam berkebangsaan, dan saya belum pernah dikecewakan hingga tulisan ini dibuat. Lihatlah sikap MUI, NU, dan Muhammadiyah yang mengatakan bahwa benar, mereka setuju bahwa Ahok harus diproses berdasarkan koridor hukum di Indonesia, dan ketuanya mengatakan tidak boleh ada atribut kedua golongan ini dalam demo nanti.

Tapi, bagaimana kalau Habib Umar menyatakan mendukung 100% demo nanti?

Kedua, kenapa saya deg-degan banget, adalah karena beliau ini merupakan orang yang dipuji oleh ulama-ulama kelas atas dunia, “Jika ingin melihat akhlak Rasulullah Muhammad SAW, lihatlah pada diri Habib Umar bin Hafiz”. Saya selalu membayangkan Kanjeng Nabi sebagai sosok manusia yang paling halus dan paling bijak yang pernah lahir di dunia ini. Bagaimana kalau Habib Umar yang dikatakan sebagai manusia yang memiliki akhlak paling mirip dengan Rasulullah SAW di masa sekarang ini, mendukung demonstrasi 4 November 2016 nanti? Apakah dengan saya yang tidak ikut berdemo 4 November 2016 ini menjadi orang yang tidak mau mengikuti seruan ulama pewaris Nabi?

Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz ini adalah orang yang jika berkata sesuatu, jutaan orang akan langsung mengikuti kata-katanya. No questions asked. Semua sudah tahu dan tidak perlu kau tanya berdasarkan ayat Qur’an dan Hadits shahih yang mana beliau berpendapat. Cobalah sebutkan satu hadits, dan beliau akan menjelaskan sanad dari beliau yang bersambung dari siapa dari siapa dari siapa, hingga sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW. Oleh karena itu, saat mencari guru dalam belajar Islam, carilah guru yang memiliki sanad, jangan sekedar dari ustadz-ustadzan, mudah mengafirkan orang nantinya. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, jika saja beliau waktu di Istiqlal berkata dengan berapi-api “Tegakkan agama Allah SWT dan jangan pernah menunda untuk berbuat baik!”, maka bahkan saya tidak yakin Ahok masih dapat tidur di rumahnya malam itu. Besar kemungkinan ribuan orang dari Istiqlal malam itu akan langsung bergerak ke rumah Ahok.

Tapi, Subhanallah, memang ada alasan kuat mengapa beliau dijuluki Guru Mulia.

Saya sudah deg-degan saat sekitar pukul 22.30 setelah menyampaikan ceramah, beliau mulai berkata,

وجدنا تساؤلات عند كثير من أهل أندونسيا هل نخرج في مظاهرة أو لا نخرج؟

“Telah sampai kepada kami banyak pertanyaan dari masyarakat Indonesia, “Apakah kami sebaiknya turut serta berdemonstrasi ataukah tidak?”

 

Long pause.

 

Semua mendengarkan dengan ta’dhim sembari menunggu kalimat selanjutnya dari beliau.

Beliau menjelaskan dengan tenang. Biar saya copy link terjemah resmi nasihat beliau, karena beliau berpesan tidak boleh dipotong sedikitpun pendapat beliau untuk kepentingan pribadi :

https://www.facebook.com/FM.fiqhmenjawab/posts/1123803984369542:0

Bagi anda yang malas untuk melihat isi nasihat beliau yang cukup panjang, silakan lihat kesimpulan yang saya tulis dibawah ini terkait demo 4 November 20116. Tapi menurut saya, tetap baca link di atas karena takut saya salah menyimpulkannya dan tentu saja akan lebih baik anda menafsirkan sendiri nasihat beliau terkait isu ini.

Kesimpulan Nasihat Habib Umar bin Hafiz menurut saya pribadi:

  1. Demonstrasi atau tidak demonstrasi, keduanya tidak dilarang oleh syariat.
  2. Demonstrasi atau tidak demonstrasi haruslah mengikuti ketentuan syariat dan aturan pemerintah yang berlaku di negara tersebut.
  3. Jangan ada dampak negatif kepada agama maupun negara yang menimbulkan perpecahan serta permusuhan diantara sesama umat Islam.
  4. Apapun yang telah dijamin oleh undang-undang negara terkait kebebasan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka, harus dilakukan dengan cara yang damai yang tidak menimbulkan kehancuran dan kerusakan di negeri itu.
  5. Umat Islam agar tidak mencaci sesembahan orang kafir agar orang kafir tidak membalas dengan mencaci Allah Yang Maha Benar.
  6. Yang ikut demonstrasi tidak boleh melakukan penganiayaan terhadap orang lain, baik anak kecil maupun orang dewasa. Atau merusak sesuatu yang tidak boleh dirusak. Sebagaimana tidak diperkenankan juga untuk mencaci orang-orang yang tidak ikut berdemonstrasi.
  7. Adapun orang-orang yang tidak berdemonstrasi juga tidak diperbolehkan mencaci orang yang berdemonstrasi. Dan hendaklah kedua belah pihak menyadari bahwa mereka mempunyai prinsip dan landasan yang sama. Hanya saja cara mengungkapkannya berbeda. Karena memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda.”
  8. Pemerintah tidak boleh untuk mengekang kebebasan rakyatnya dalam mengekspresikan aspirasi mereka dengan menggunakan kekerasan tanpa alasan yang benar, atau menyakiti orang yang berdemonstrasi tersebut. Begitu pula tidak diperbolehkan bagi mereka yang berdemonstrasi untuk saling menyakiti diantara mereka. Ataupun menghujat pihak pemerintah.
  9. Jika yang demontrasi malah menimbulkan kebencian dan permusuhan diantara sesama umat Islam, serta memunculkan cacian terhadap orang yang tidak berdemonstrasi dan berprasangka buruk terhadap agama mereka tanpa bukti nyata, maka lebih baik bagi kalian untuk tidak keluar berdemonstrasi demi menjaga kebaikan kaum Muslimin sehingga tidak menimbulkan keburukan dan penistaan.”
  10. Juga kepada mereka yang tidak turut berdemonstrasi apabila mereka mencaci orang-orang yang berdemonstrasi sehingga menimbulkan permusuhan, perpecahan dan pertengkaran (diantara kaum Muslimin), maka lebih baik bagi kalian untuk turut berdemonstrasi tanpa mencaci orang lain dan tidak menimbulkan dampak buruk.”
  11. “Dan kami sampaikan kepada mereka yang turut berdemonstrasi dengan cara yang santun dan damai serta tidak menimbulkan permusuhan dan penistaan, “Bagimu ijtihadmu dan niatmu, dan semua itu kembalinya kepada Allah Swt.”

 

Allahu Akbar. Takbir dan sholawat bergema dimana-mana. Merinding saya. Seumur hidup baru sekali saya mengalami momen seperti itu, ribuan orang bertakbir dan bersholawat bersamaan.

Jadi inti tulisan saya kali ini adalah, kepada NU dan FPI, ikuti dawuh Guru Mulia, demo ataupun tidak demo sama-sama tidak melanggar syariat. Yang demo monggo, harus damai, tidak menimbulkan perpecahan, tidak mengina sesembahan orang lain, tidak merusak, tidak menganiaya, tidak mencaci, dan tidak menghina yang tidak demo. Begitupun yang tidak demo, lebih baik berdo’a dan tidak menghina yang berdemo.

Kepada Habib Rizieq dan anggota FPI, jika kalian memanas-manasi orang untuk berdemo dan berbuat keonaran dan memecah belah persatuan Indonesia. Ketahuilah bahwa kalian menyelesihi Guru Mulia kalian, Habib Umar bin Hafiz, yang berarti kalian justru sedang menyakiti hati Rasulullah SAW dan tidak sedang membela agama Allah SWT.

Terakhir, ada kisah menarik yang dapat dihubungkan dengan kasus Ahok ini.

Di dalam riwayat, Usamah ibn Zaid menuturkan, “Rasulullah saw. mengutus kami untuk memerangi kaum musyrik dan kami tiba di al-Haraqat dekat Juhainah di pagi hari. Dalam pertempuran itu aku menangkap seorang musyrik dan saat aku hendak menebas lehernya, ia mengucapkan la ilaha illallah, namun aku tetap membunuhnya. Aku merasa bersalah dan kemudian kulaporkan peristiwa ini kepada Rasulullah saw. Rasulullah bertanya, “Ia telah mengucapkan la ilaha illallah dan kau tetap membunuhnya?”

Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan kalimat itu hanya untuk menyelamatkan dirinya dari pedangku.”

“Apakah engkau telah mengetahui isi hatinya? Bagaimana kau bisa yakin apakah ia tulus atau tidak?”

Dalam hadits dikatakan,

“Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mengorek-ngorek isi hati manusia” (Bukhari)

Tak seorang pun, yang tahu isi hati. Bahkan Nabi SAW sendiri tak mengetahui isi hati tiap-tiap umatnya secara pasti. Islam sendiri tidak bisa menghukumi persoalan hati. Ia terletak dalam dan hanya Allah ta’ala yang mampu menjangkaunya. Itulah sebab mengapa Nabi saw. kemudian memarahi Usamah ibn Zaid yang padahal sudah dianggap seperti cucu sendiri. Ia sering berada dalam pangkuan beliau sejak masih amat kecil.

Tanpa ada maksud membela Ahok yang omongannya memang kasar, serampangan, tidak elegan, dan sering kali menyinggung perasaan hati umat Islam dalam kasus kali ini(tentu saja, wahai Ahok, bagaimana kamu mau ngomongin tafsir Al Maidah ayat 51 sih, boro-boro ulama, agamanya Islam juga bukan. Lha wong yang orang Islam aja ga boleh sembarang orang yang menafisrkan ayat) . Namun saat Ahok sudah meminta maaf dan klarifikasi bahwa tidak ada maksud sama sekali untuk menistakan Al-Qur’an, dan kalian tetap keukeuh bahwa maksud hatinya Ahok itu pasti menghina Qur’an, apakah kalian merasa diutus untuk mengorek isi hati manusia? Tidak malukah dirimu pada Kanjeng Rasulullah SAW?

 

Maka saksikanlah, aku tidak pergi berdemo, aku tak peduli kalian panggil Muslim Cicak dengan tafsiran kisah Nabi Ibrahim yang kalian tafsirkan untuk kepentingan dalam kasus demo ini. Yang kuikuti adalah Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz, yang memperbolehkan demo ataupun tidak demo asal jangan saling mencaci, ulama yang sanadnya berhubung sampai ke Rasulullah Muhammad SAW, bukan kalian yang sama-sama belajar engineering denganku, yang belajar agama dari google dan disela-sela ujian Matematika Teknik.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

 

 

Yang kalian caci sebagai Muslim Cicak,

 

Muhammad Syauqy Nailul Author

 

Bekasi, 3 November 2016.

 

 

Adalah Arti Sebuah Nama

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Tulisan ini akhirnya dibuat karena kerap adanya pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman sejawat, “Kenapa ga di-post sih?”. Maka anggaplah tulisan ini sebagai berita bahagia dan rasa syukur atas kelahiran dirimu 3 bulan yang lalu, 22 Juli 2016, dan anggaplah menjadi kado untuk dirimu yang baru saja berulang bulan yang ketiga pada 22 Oktober 2016 kemarin, selain teether yang kami beri nama Sapi’i dan Jerry (duo jerapah yang lucu dan menggemaskan).

Tulisan ini juga dibuat sebagai pengingat, agar suatu hari nanti saat mungkin engkau mengalami kebingungan dalam kehidupanmu, setelah membaca dan tahu arti dari namanu, engkau akan tahu betapa besar rasa sayang dan harapan kami pada dirimu, lalu kau akan bangkit dan menyelesaikan masalahmu sesuai hukum Allah SWT dan Nabi-Nya, juga dengan beradab, elegan, cerdas, dan ceria.

1

Pipi

Muhammad. Role model. Uswatun hasanah. Without a doubt, sosok manusia terbaik di dunia. Dipilih sebagai nama awalmu, selain bentuk mengharap berkah dari Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW, juga sebagai bentuk do’a kami, agar akhlak, etika, adab, tingkah laku, kecerdasan, ketenangan, kedisiplinan, bagaimana bersikap kepada orang lain (baik yang muslim maupun non muslim), kepemimpinan, dan seluruh aspek dalam kehidupanmu kelak dapat meniru manusia paling agung yang pernah lahir di dunia ini. Maka, jika kelak nanti kau mengalami sebuah problema dalam hidupmu, ingatlah selalu, selesaikan masalah itu tanpa merusak nama Nabi kita. Jalani kehidupanmu sesuai akhlak yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

2

Aqiqah (7 hari)

Ulil Albab. The people of intellect.

Banyak yang menafsirkan Ulil Albab sebagai “orang-orang yang berpikir”, diartikan sebagai para cendekiawan, pemikir, ilmuwan, professor, atau dengan kata lain, orang yang benar-benar memiliki keilmuan yang sangat tinggi di bidangnya. Namun, jika kami ingin kau tumbuh menjadi “sekedar” orang yang jenius, tentu kami tidak akan menamaimu Ulil Albab. Tidak semua orang yang pintar lantas dapat dikategorikan sebagai “Ulil Albab”. Jika nanti kau baca kitab suci kita, Al Qur’an, kau akan temukan bahwa Ulil Albab adalah orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Oleh karena itu, sebelum nanti insya Allah kamu menjadi orang yang sangat jenius dalam hal keduniawian, sebagai orang yang memiliki nama “Ulil Albab”, arungi langkah pendidikanmu dengan dzikir. Dzikir dalam artian selalu mengingat Allah dalam segala kondisi. Baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring bahkan pada saat sedang berpikir, dirimu tidak pernah terlepas dari dzikir.

Ittaquu. Secara bahasa, artinya lebih kurang adalah “bertakwalah”. Tidak peduli pilihan apapun yang kamu pilih dalam hidupmu kelak. Ingat pesan kami, nak, yang kami patri dalam namamu. Bertakwalah. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bertakwa kepada Allah SWT. Berpegang teguhlah kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tapi jangan sendiri, nak. Ingat, jangan sendiri. Kami takut kau akan kebingungan dan tersesat dengan kesombongan. Bergurulah kepada para alim ulama yang ikhlas, yang sanad keilmuannya bersambung hingga Rasulullah Muhammad SAW. Insya Allah hidupmu akan sukses di akhirat kelak.

Muhammad Ittaquu Ulil Albab. Sudah cukup panjang bukan namamu, nak? Tetapi ayah mohon maaf harus menambah sedikit usahamu kelak saat insya Allah nanti kamu mengisi lembar Ujian Nasional.

Ittaquu Ulil Albab. Jika diartikan akan menjadi “Bertakwalah kepada orang-orang yang berpikir”. Padahal seharusnya yang benar adalah Ittaqullah, bertakwalah kepada Allah SWT, kata-kata yang akan banyak engkau dengar saat sholat Jum’at. Maka, untuk membenarkan arti namamu, setelah ayah bertanya kepada orang tua dan kiai, maka perlulah ditambahkan “Yaa” di tengah-tengahnya. Ittaquu Yaa Ulil Albab. Bertakwalah wahai orang yang berpikir.

Itulah nama lengkapmu, nak.

Muhammad Ittaquu Yaa Ulil Albab.

Bertakwalah, wahai orang yang berpikir dan yang memiliki kepribadian Rasulullah Muhammad SAW.

Sejujurnya, ayah secara pribadi, ingin memanggilmu dengan panggilan “Takuya”. Apa daya, bundamu tidak setuju. Karena katanya takut kau akan diledek “Uya Kuya” oleh teman-temanmu nanti. Maka, jadilah, panggilan yang disetujui Ibumu, Taka.

3

Keluarga kecil di Cikampek saat syukuran pernikahan kedua dan ulang bulan Taka ke-3

4

Foto bersama Mak yang membantu menjaga Taka sehari-hari. Semoga sehat selalu, Mak.

Dalam bahasa Jepang, Taka artinya Elang. Cepat dan sigap. Ingat ya nak, nama lengkapmu Arab, nama panggilanmu Jepang, tepi tetap di darahmu mengalir darah Jawa dan Sunda. Belajarlah sampai ke ujung dunia, tapi jangan hilang Jawa dan Sunda-mu. Jangan hilang Indonesia-mu! Cintai Tanah Air, negeri Wali Songo ini!

Jadilah manusia yang fleksibel tapi tetap memiliki nilai. Aby-nya ayah selalu mengajari ayah, “Bergaul itu harus bisa dengan semua golongan, diajak ngomong Fiqih ayo, diajak ngomong Fashion juga ayo, diajak ngerjain Kalkulus bisa, main remi bisa, baca Qur’an fasih, diajak meeting sama bule juga fasih, harus bisa dari level ulama, professor, sampai ke preman”.  Ayah mengerti, ajaran Kakek ini supaya kita selalu fleksibel, tidak mudah men-judge orang lain, dan jika kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, kita dapat berdakwah kepada semua golongan, tidak canggung, dan tidak membuat mereka canggung.

Tidak wajib untukmu bergamis. Sebagai anak nusantara, pakailah sarung dan batik. Jangan pernah menilai orang dari luarnya, nak. Daripada bergamis tapi kerjamu berteriak marah dan membuat keonaran dimana-mana, lebih baik kau bergaya seperti Takuya Kimura atau Taka One Ok Rock, tapi hobinya sholawatan.

Outfit SuFu, hati sufi.

Gaya Hypebeast, akhlak hafidz. (Credit goes to Gus Sholahuddin Alrahmani)

Terakhir, kebetulan, hari selesainya tulisan ini, 26 Oktober 2016, merupakan peringatan dua tahun pernikahan ayah dan bunda. Ayah jadi ingat, dulu semasa ayah masih SMA, tepatnya MAN. Ayah pernah ditanya oleh teman ayah selepas sholat Ashar. “Kenapa harus Rara sih, Qy?”.

Ayah jawab, “Ini bukan masalah suka atau cinta, ini masalah siapa yang jadi ibu dari anak-anakku kelak.”, di teras Masjid Ulil Albab MAN Insan Cendekia Serpong, tempat ayah dan bunda pertama kali bertemu, yang juga menjadi bagian dari namamu.

Alhamdulillah.

 

Cikampek, 26 Oktober 2016.

 

 

 

The Quran mentions several special groups of people. If you’re among a special group, you’re worthy of a special award, a special mercy bestowed by Allah (s.w.t.). One of these groups of people is what the Quran terms as “Ulul Albab” or the People of Intellect.

Allah has given each one of us a brain, and let us use it in any way we want. Ulil Albab are the people who not only have a brain, but are gifted in knowing how to put it to its correct use. They don’t need to have the signs of Quran drilled into them by constant repetition. All they need is to look at the sky– and they can read in its vastness, its seamless beauty, the presence of One God who is Merciful, the Best Creator, the one who is Beautiful and loves beauty, the Subtle.

The qualities of Ulil Albab

  1. The ayat of Allah, whether natural (the sky, trees, mountains, flowers) or revealed (the Taurat, the Injeel, and the Quran) penetrate into their hearts very easily. And as a result, they automatically develop the love for natural beauty, and for the beauty of Revelation, as mentioned in [Quran, 38:29]
  2. They remember God at all times, and are aware of His constant presence in their lives, as mentioned in [Quran, 3:191]
  3. They pray to God. The Quran specifically mentions the following du’as in [Quran, 3:191-194] and [Quran, 3:8-9]
  4. They are wise, as mentioned in [Quran, 2:269]
  5. They fulfill their obligations to Allah in an excellent manner, as mentioned in [Quran, 13:20-22]
  6. They are extremely afraid of the Hellfire
  7. They remain patient in difficult situations in order to make Allah pleased with them, as mentioned in [Quran, 13:22]
  8. They don’t nurture the attitude of retaliation. Rather they forgive others and reciprocate evil with good, as mentioned in [Quran, 13:22]” – understandquran.com

 

Beragama Seperti Berkeluarga

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Assalamu’alaikum Wr,Wb.,

 

Setelah lama tidak menulis, akhirnya di awal bulan Ramadhan ini menjadi pintu hidayah bagi saya untuk kembali melanjutkan salah satu resolusi tahun 2016 saya, menulis satu kali setiap satu minggu, haha. Aktualisasinya hanya berjalan dua minggu. LOL.

Adapun saya berkesempatan menulis karena sekarang sedang di perantauan yang jauh dari keluarga, huft. Sudah 3 minggu nih di Duri, Riau, haha. Hitung-hitung membunuh kebosanan ya. Baiklah, mari dimulai saja.

 

Setiap anak yang lahir dari rahim ibunya dan diasuh dengan baik oleh ayah ibunya, normalnya pasti menganggap ayah dan ibunya adalah yang terbaik di dunia, bukan begitu? Jangan masukkan kasus-kasus penganiayaan terhadap anak sendiri dan kekerasan dalam rumah tangga, karena orang-orang itu tidaklah normal.

Dapat kita lihat, postingan-postingan di social media di antara teman-teman kita yang sangat mencintai keluarganya, misalnya :

 “I love you Mom. You’re the best mom in the world”.

“My father is the best father in the galaxy”.

“Happy birthday my beautiful wife. I am very lucky to marry the prettiest girl on earth”.

“Halooo, anakku yang paling ganteeeng seduniaaa” (sambil posting foto anaknya yang unyu).

 

Seluruh kalimat yang berisi kata-kata superlative itu menunjukkan bahwa dia menunjukkan yang nomor satu. Contoh: Manchester United is the best team in the world.

Berarti team lain, menurut si penulis, levelnya di bawah MU.

 

Tapi tunggu…

Apa benar orang tua anda adalah orang tua yang terbaik di dunia? Bagaimana dengan orang tuan teman anda? Benarkah istri anda adalah yang tercantik di dunia, yang berarti semua wanita selain istri anda lebih jelek dari istri anda? Atau benarkan anak anda yang baru lahir yang paling ganteng sedunia? Apa berati anaknya David Beckham lebih jelek dari anak anda?

Seperti saya tulis sebelumnya, menurut si penulis, memang betul bahwa orang tuanya adalah yang terbaik di dunia, istrinya adalah yang tercantik di dunia dibanding semua perempuan lainnya, dan anaknya yang paling ganteng sedunia, bahkan dibandingkan anak David Beckham.
Tapi, bagaimana seandainya si penulis menuliskan semuanya itu secara gamblang dalam postingan-nya seperti ini:

“My father is the best in the world, ayah yang lain pasti ga bisa mengajari anaknya sebaik ayah saya”.

“I love you Mom. You’re the best Mom in the world. Ibunya teman saya yang lain pasti ga bisa ngurus anak sebaik ibu saya”.

“Happy birthday my beautiful wife. I am very lucky to marry the prettiest girl on earth. Ga kayak istrinya si Budi yang jelek”.

“Halooo, anakku yang paling ganteeeng seduniaaa. Kamu jauh lebih ganteng dari anak temen aku, si Brandon”.

Contoh lain, dalam dunia persepakbolaan,

Jika pendukung Persib posting seperti ini : “I love Persib. Persib is the best in the world. Persib nu aing!”, dan pendukung Persija posting seperti ini : ”I love Persija! Persija is the best in the world! Aku rela mendukung kemanapun kalian bertanding! Hidup Persija!”

Ada masalah? Saya rasa tidak.

Berbeda dengan postingan seperti ini : “I love Persib and Bonek. Bonek Viking sama saja, asal jangan the Jak, the Jak itu a***ng!” atau, “Persija is the best team in the world, aku akan pergi mendukung kemanapun kalian bertanding. Persib si lemah, siap-siap kita datengin dan kita hancurin!”

Apa yang terjadi? Niscaya akan gelutlah kedua supporter itu, sweeping di lokasi pertandingan, dan lain sebagainya.

 

Contoh lain di dunia pendidikan,

Saya adalah alumni dari Teknik Elektro ITB. Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME) ITB memiliki value, slogan, dan yel-yel terhebat kami yaitu OK, CHAMP!

Apa itu berarti himpunan yang lain bukanlah himpunan bermental CHAMP (pemenang) seperti himpunan kami? Himpunan lain ada yang pernah protes? Tidak. Karena slogan OK CHAMP kami bukan berarti menganggap himpunan lain tidak bermental juara. Namun cerita akan berbeda jikalau yel-yel kami menjadi : “OK, CHAMP! THE OTHERS ARE LOSER!”. Niscaya akan terjadi perang antar himpunan setiap ada olimpiade atau acara pertandingan persahabatan, maupun arak-arakan wisuda.

Contoh lagi, Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan (HMTM) PATRA ITB, seingat saya mereka memiliki kaos bertuliskan : “I’m choosing the right major”. Mmm. Tunggu, apa berarti yang lain salah pilih jurusan? Tidak, karena mereka memang tidak ada niatan menjelekkan jurusan lain. Namun bagaimana kalau kaosnya bertuliskan “We’re the only one that choosing the right major. Others are wrong.”? Yang lain, pasti merasa kesal saat melihat kaos itu. Siapa anda dapat menentukan bahwa saya salah masuk jurusan? Orang saya memang sukanya Fisika Partikel, makanya pilih jurusan Fisika, misalnya.

Atau misalnya Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB yang slogan tertingginya adalah Solidarity Forever. Apa berarti himpunan lain tidak solid? Tentu tidak, HMM ITB bangga dengan kesolidannya tanpa bermaksud menjelekkan himpunan lain.

Contoh lain, misalnya saya posting di Facebook saya :

“MAN Insan Cendekia Serpong adalah sekolah terbaik untuk menyekolahkan anak anda supaya dunia dan akhiratnya baik.” Tidak apa-apa kan?

Tapi apa yang terjadi jika saya posting seperti ini :

“MAN Insan Cendekia Serpong adalah sekolah terbaik untuk menyekolahkan anak anda supaya dunia dan akhiratnya baik. Jangan sekolahkan anak anda di SMA Taruna Nusantara, karena metode belajar agamanya kurang, nanti agamanya jelek”.

Tentu saya akan dipukuli oleh teman-teman saya dari SMA Taruna Nusantara.

Jika teman-teman saya yang dari SMA Taruna Nusantara posting :

“SMA Taruna Nusantara adalah sekolah terbaik untuk anda yang ingin anaknya sehat jasmani dan rohani serta unggul dalam bidang akademik.”

Yes, tidak apa-apa. Sangat wajar setiap alumninya bangga akan almamaternya.

Lain cerita jika kata-katanya seperti ini:

“SMA Taruna Nusantara adalah sekolah terbaik untuk anda yang ingin anaknya sehat jasmani dan rohani serta unggul dalam bidang akademik, kalau MAN Insan Cendekia Serpong metode mengajarnya salah, makanya anaknya letoy-letoy.”

Tentu anak-anak IC akan mengeroyok anak Taruna Nusantara yang posting seperti itu, karena kemungkinan besar kalau satu lawan satu anak IC akan langsung terkapar, haha.

Dari seluruh contoh yang saya tuliskan di atas, point saya dalam tulisan ini adalah, setiap orang sah-sah saja dan sangat wajar untuk bangga, cinta, dan menganggap value/hal yang dipercayanya sebagai yang paling baik, the best in the world, tapi tidak dengan menganggap, apalagi mengumbar-umbar, di social media bahwa value/hal yang dipercaya orang lain salah, apalagi man-cap lebih buruk dari value/hal yang anda percayai.

Sialnya, banyak orang yang sudah paham untuk tidak mem-posting contoh-contoh yang saya sebutkan di atas, tapi mendadak menjadi tidak paham jika hal itu menyangkut agama. Apalagi di dalam bulan puasa yang seharusnya kita menahan nafsu dan amarah, justru kita semakin diuji dengan adanya postingan-postingan yang memancing keributan.

Contoh, banyak (mungkin jumlahnya ribuan orang di Indonesia ini) yang posting “Do’a yang benar dan do’a yang salah saat berbuka puasa”, merujuk pada sebuah situs yang sering muncul sebagai rujukan dari Syaikh Google.

Sebentar, do’a yang salah? Ya, anda tidak salah membaca ataupun mendengarnya.

Menurut orang-orang ini, ada do’a yang salah, walaupun isi do’anya baik.

“Ya Allah keranaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmat MU, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih “

Bagus kah isi do’a tersebut? Tentu. Itulah arti do’a dari Allahumma Lakasumtu… yang biasa kita ucapkan sedari kecil. Namun akhir-akhir ini dianggap beberapa orang salah dan tidak boleh diucapkan.

Menurut mereka satu-satunya doa yang benar untuk diucapkan saat berbuka puasa adalah Dzahaba zhaama’u dst, yang artinya :

“Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan/urat-urat dan telah tetap ganjaran/pahala, insya Allah”.

Tentu do’a ini juga sama baiknya. Tapi, bukan berarti hanya do’a ini saja yang boleh diucapkan. Bahkan, seeandainya anda lupa untuk berdo’a saat buka puasa saja tidak memengaruhi batalnya puasa anda. Lalu, kenapa kalian meributkan hal-hal seperti ini sih? Alih-alih menciptakan kedamaian di bulan puasa, orang-orang ini justru menimbulkan perdebatan yang tidak berfaedah.

Seandainya anda berdo’a “Alhamdulillah terima kasih Ya Allah bisa minum es doger dan bakwan goreng saat buka puasa sore ini” saja insya Allah sudah merupakan do’a yang baik. Jangan tanya apakah do’a itu ada contohnya dari Rasulullah SAW atau tidak, karena saya yakin zaman Rasulullah SAW hidup tidak ada es doger dan bakwan goreng di jazirah Arab sana. Belarlah kaidah fiqh terlebih dahulu sebelum asal menganggap sebuah ibadah

Orang-orang ini menganggap do’a yang mereka ucapkan adalah yang terbaik. Tidak apa-apa, sah saja jika hanya berhenti di situ. Apa problemnya? Problemnya adalah orang-orang ini menganggap dan menyebarkan bahwa do’a yang lain salah dan tidak boleh dibaca.

Kenapa ya? Sepertinya tidak puas kalau tidak melihat orang lain salah, dirinya yang paling benar. Entah kenapa.

Seperti yang dapat ditebak, perdebatan akan terjadi. Padahal contoh do’a berbuka puasa yang ada haditsnya, setidaknya ada tiga, dan anda boleh saja berdo’a dengan do’a baik lain yang anda inginkan.

 

Contoh lain dalam hal beragama ada beberapa dari anda yang berpikir seperti ini sampai sekarang:

Seorang Muslim berkata dalam hati : “Itu ngapain deh orang Kristen, ibadahnya kok nyanyi-nyanyi. Hahahaha.”

atau, seorang Kristiani berkata dalam hati : Itu ngapain deh orang Islam, ibadahnya kok kayak senam. Hahahaha.

Atau orang Atheist : Ngapain deh orang Bali itu ibadah kok malah pada nyepi, matiin lampu, dan lain-lain. Ga masuk logika.

 

Pernah melihat postingan seperti itu? Tidak, kan?

 

Tapi, bagaimana dengan postingan seperti ini :

 

Zikir berjama’ah setelah sholat itu sama saja seperti nyanyi rame-rame.

Merayakan maulid Nabi Muhammad SAW itu bid’ah, dan setiap bid’ah adalah masuk neraka.

Ngapain itu sufi, nari-nari ga jelas? Ga ada tuntunannya, sesat.

Hahahaha, lihat itu Syi’ah ibadahnya bawa batu, sabet-sabet diri sendiri sampai luka, dasar sesat dan kafir.

Baru-baru ini bahkan ada video tentang 11 hal yang perlu diluruskan tentang  puasa, nyekar, niat puasa yang diucapkan, buka do’a puasa, dan lain sebagainya.

 

Huft, ribuan orang akan dengan sangat mudah share berita-berita seperti ini.

Ironis. Wahai kaum muslim, apa yang membuat kamu dapat menahan diri untuk tidak menjelekkan ibadah agama lain, sedangkan di waktu yang sama kamu mudah sekali menyakiti saudara seiman kalian dengan menjelekkan cara ibadah yang mereka yakini? Padahal dasarnya pun kalian tidak tahu. Apakah kamu merasa berdakwah dengan menekan tombol share itu dan menyakiti saudaramu?

Berhubung ini baru masuk bulan Ramadhan, sepanjang bulan ini akan banyak perdebatan mengenai jumlah raka’at tarawih, kapan hari lebaran, dan lain sebagainya.

Tolonglah saudara-saudara, demi kenyamanan dan kebaikan puasa kita bersama, jika anda ingin posting hal-hal yang dapat memicu perdebatan, sedapat mungkin ditahan, atau paling tidak silakan anda posting hal yang anda percayai, tanpa menjelekkan atau menyerang hal yang orang lain percayai.

 

Terakhir,

Menganggap orang tua sendiri yang terbaik di dunia adalah kemuliaan. Menjelekkan orang tua orang lain adalah kehinaan.

Memuji istri sendiri sebagai yang tercantik adalah penghormatan. Menjelekkan istri orang lain adalah penjerumusan.

Meyakini agamanya sebagai yang paling benar adalah keniscayaan. Menjelekkan agama lain adalah keburukan.

Memercayai cara beribadahnya yang paling benar adalah kewajaran dan kebolehan. Menjelekkan cara ibadah orang lain adalah kesombongan.

 

Beragamalah seperti bermasyarakat.

Beragamalah seperti berkeluarga.

 

Selamat beribadah puasa dengan tenang dan nyaman.

 

Muhammad Syauqy Nailul Author,

Duri, Riau,

1 Ramadhan 1437 H,

6 Juni 2016.

 

 

Tulisan ini dapat juga dibaca di : http://www.kompasiana.com/uqyauthor/beragama-seperti-berkeluarga_575524e42023bd7511b2af3f

 

Berjuang dengan #Hashtag

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Peringatan! Itulah hal pertama yang ingin saya sampaikan sebelum anda membaca lebih lanjut tulisan kedua saya di tahun 2016 ini.

Mengapa pembaca perlu diingatkan? Karena setelah membaca tulisan ini akan ada banyak orang, termasuk anda mungkin, yang akan tidak menyukainya, mengernyitkan dahi, ataupun mungkin justru malah membenci saya? Atau mungkin malah ada yang merasakan kegundahan yang sama dengan saya? Ah, sudahlah, I never care in the very first place, haha.
Bagi saya, tulisan merupakan tempat untuk mencurahkan apa yang ada di dalam pikiran dan hati. Lalu, kenapa saya harus peduli dengan pendapat orang lain tentang saya berubah akibat saya menulis artikel ini? Lagipula ini negara demokrasi. Asalkan masih dalam koridornya, bukankah kebebasan berpendapat sudah diatur dalam UUD kita pasal 28? Edans. #AnakOlimpiadePKN

Tulisan kali ini merupakan kegundahan hati yang sudah lama saya rasakan, namun baru sempat tertuang. Terlebih lagi, Indonesia, khususnya Jakarta, dalam minggu kemarin sedang berduka akibat adanya perilaku beberapa makhluk gila yang meledakkan bom dan juga melakukan aksi tembak di Sarinah, Jakarta. Biadab kalian, para teroris dan pendukungnya!

Sebelum saya lanjutkan, saya mengucapkan bela sungkawa sebesar-besarnya kepada para korban dan keluarga yang merasa dilukai. Semoga keluarga korban diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi semua. Mohon maaf, saya belum bisa membantu sama sekali, tidak seratus rupiah pun, tidak satu hashtag pun. Sekali lagi, saya mohon maaf. Maaf, saya adalah makhluk hina yang tidak melakukan tindakan nyata sama sekali. Namun, percayalah, walaupun saya hina, saya masih dapat merasakan kesedihan dengan adanya korban-korban yang berjatuhan dan marah kepada manusia-manusia keparat yang melakukan tindakan pemboman ini.

Berbicara mengenai perasaan, sedikit melenceng dari topik, sebagai seorang suami, saya pernah mendengar kalimat bijak yang berbunyi seperti ini :

Jangan pernah berkata “Aku mengerti perasaan dan keadaanmu kok yaaang”, kepada istri yang sedang hamil. Terlebih dengan mata masih tertuju kepada handphone anda.

Sekilas tidak ada yang salah dengan perkataan suami tersebut, karena “berusaha” bersimpati kepada sang istri. Namun jangan salahkan kenyataannya ketika sang istri amat sangat terluka akibat sang suami mengatakan kata-kata tersebut.

Diluar kondisi hormon yang tidak stabil sang istri, si suami memang bersalah mengatakan hal tersebut. Bayangkan, istri yang muntah-muntah setiap pagi selama tiga bulan awal, tidak bisa makan karena sekali makan langsung dimuntahkan lagi karena enek, pusing, sakit dan pegal di pinggang setiap hari sehingga tidak bisa tidur, dan lain sebagainya.

Saat sang istri bercerita mengenai perjuangan dan jalan jihadnya ini dan berharap perhatian dari suaminya, alih-alih suami mendengarkan dengan seksama dan memberikan pundak untuk sang istri bersandar, si suami malah memotong ceritanya dan berkata “Aku mengerti perasaanmu kok yaaang”.

Sang istri pun meledak marah. Bagaimana bisa si suami mengerti? Muntah tiap pagi? Ga. Mual? Ga. Ga bisa diisi makanan perutnya? Ga, malah nambah. Ga bisa tidur? Ga, malah pake ngiler. Jadi, bagaimana mungkin si suami bisa berkata dia mengerti perasaan dan kondisi sang istri? Sang suami bahkan tidak mengalami semua hal itu!

Jadi, pelajaran apa yang bisa diambil dari cerita di atas? Ada dua.

Pertama, hormati kedua orang tuamu, terutama ibumu. Tidak salah Rasulullah SAW mengatakan siapa yang wajib kau hormati? Ibu, Ibu, Ibu, Ayah. Wajib hukumnya.

Kedua, jangan berkata dan menunjukkan seolah-olah “saya peduli” ketika bahkan anda tidak bergerak sama sekali untuk membantu secara nyata mengatasi masalah tersebut.

Kembali membahas peristiwa ledakan bom kemarin, banyak orang yang berpendapat dan merasa, salah satu cara melawan teroris yang mumpuni adalah dengan hashtag. #KamiTidakTakut.

Alih-alih berdebat mengenai bagaimana mengobati korban-korban dan sumbangan serta bantuan apa yang dapat diberi untuk keluarga korban sesegera mungkin, orang-orang ini lebih tertarik berdebat mengenai hashtag apa yang paling efektif digunakan untuk melawan terorisme dan menghibur hati keluarga korban, #KamiTidakTakut? #PrayforJakarta?

Perdebatan biasanya berujung pada status atau komen nyinyir di Facebook. Pun, munculnya analis media sosial, terorisme, dan perekonomian makro secara tiba-tiba di media sosial. Apparently, sebuah hashtag dapat mempengaruhi perekonomian sebuah Negara. Tentu saja, saya tidak akan membahas itu disini, karena sudah banyak analis yang menyangkal pendapat termahsyur yang sanad-nya beredar berangsur-angsur lewat whatsapp itu.

Tidak cukup dengan perdebatan hashtag apa yang mumpuni, di tengah kondisi duka ini, ada lagi segolongan orang yang menyinyir dengan posting gambar berikut:

france

“Pengen liat!!! Apa orang Francis mau make PP bendera Indonesia kayak kalian yang dulu sok-sokan pakek bendera Francis.”

Ehm. Baiklah.

1.      Francis. Really?
2.      It is only profile picture, for God sake.
3.      Orang-orang yang memposting foto ini ada yang menggunakan bendera Palestina sebagai profpic-nya. Bukankah hal itu juga berlaku untuk anda, wahai akhi?

Saya pribadi, memiliki dua sisi pendapat terhadap masalah ini.

Pertama, itu cuma, sekali lagi, CUMA profile picture gitu. Kenapa sih harus diperdebatkan? Profile picture yang diganti punya lo juga bukan, itu profpic dia sendiri, profile dia sendiri yang dia register dengan email dia sendiri, kenapa lo yang sibuk?

Kedua, apakah mengganti profpic dengan sebuah bendera akan mengobati perasaan takut dan terluka korban disana?
Apa kalian berharap sang korban pemboman di rumah sakit membuka Facebook dan berkata “Wah, lihat, ada 1 juta orang yang profpic-nya diganti bendera negara kita lho”, kita jadi merasa lebih baik setelah melihat profpic ini”.

Kenapa sih kalian ini sukanya membanding-bandingkan? Prancis kek, Indonesia kek, Suriah, Arab Saudi, Yaman, Iran, jika ada kabar duka ya dibantu, bukan dibanding-bandingkan. Kalian ingin merasa dikasihani atau gimana sih?

Saat tragedi crane di Arab Saudi ada golongan orang yang membangga-banggakan cepatnya tindakan penanganan disana oleh pemerintah Arab, sedangkan saat ada tragedi bom di Indonesia, negara kita sendiri, kalian malah mengolok-olok presiden kita sendiri dan mengatakan ini adalah pencitraan. Gila.

Huft. Huft. Tarik napas dulu.

Baiklah, ada lagi seorang public figure yang mungkin maksudnya baik, tapi entah mengapa menurut saya pribadi, caranya dapat dibilang sangat-sangat buruk. There are 2 kinds of people in this world, ada yang dapat menanggapi dengan serius, dan ada yang menanggapi dengan berusaha sok asik. Sang public figure ini tampaknya termasuk golongan yang kedua, bahkan terlampau sok asik.

Beberapa saat setelah terjadi ledakan bom. Alih-alih mendo’akan (Ya, dimohon jangan do’a di Facebook, do’a setelah sholat sendirian akan jauh lebih baik) para korban ataupun membantu menggalang donasi dengan kapasitasnya sebagai public figure, dengan hebatnya dia menulis twit :

gp

Jangan gunakan momen ini untuk nanya kabar ke mantan. #TetapTenang #TetapMoveon

Gilanya, sampai tulisan ini ditulis, ada 780 retweet dan 111 love dari para rakyat Indonesia. Seriously, guys?
Alih-alih mencoba membantu meringankan beban korban, hal ini dijadikan bercandaan dengan gaya masa kini, supaya agar jangan gunakan momen ini untuk nanya kabar ke mantan? Tragedi pemboman = “momen ini”? Tak salah acara televisi di Indonesia rusak, karene memang mungkin otak sebagian penontonnya rusak, ga punya hati. Bayangkan, perasaan keluarga korban? Saya aja yang bahkan ga kenal korban sama sekali merasa kesel, pake bingit.

Bayangkan, ada teman SMP kalian yang meninggal, anggap X. Ada teman kalian yang lain, si Y, yang meng-twit “Jangan gunakan momen meninggalnya X untuk nanya kabar ke mantan apakah dia datang ke pemakamannya apa ga? #TetapTenang #TetapMoveon”

Percayalah, jika twit itu diketahui  orang tua dan keluarga X, mungkin Y akan dipukuli dan dengan segera menyusul X. Setidaklucu itu lho.

Terakhir, perilaku sebagian (besar) masyarakat Indonesia pada minggu ini mengingatkan saya akan perilaku sebagian orang saat Riau ditimpa bencana asap beberapa waktu yang lalu. Anda menemukan banyak sekali posko-posko galangan sumbangan dana, bukan? Dana tersebut digunakan untuk membeli masker dan juga pembiayaan berbagai usaha untuk segera menyelesaikan bencana asap tersebut.

Nah, saya ingin bertanya sebelumnya:

Apa yang sudah kalian sumbangkan untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di Riau?

Jangankan 100.000 rupiah, sumbangan 5000 rupiah, tidak, 100 rupiah saja dari anda  akan sangat berharga waktu itu.

Jika anda sudah menyumbang secara diam-diam, baik sekali, semoga Allah SWT membalas dengan pahala yang berlipat.

Jika anda tidak menyumbang, namun anda bersikeras berkata sudah peduli dan membantu saudara-saudara kita dengan foto terbaik anda menutup mulut atau menggunakan masker di luar negeri atau di tempat lain yang tidak ada asap dengan hashtag #melawanasap ditambah caption “4567 miles away doesn’t stop me from being concern about my country. For those who wants to give donation, it can be done through: blablabla” tanpa menyumbang sepeser pun lewat link tersbut, saya harap Allah SWT membalas anda dengan pahala juga karena menyebarkan link untuk berdonasi walupun anda tidak berdonasi, atau at least, follower dan jumlah like yang banyak, bagaimana? Fair enough.

Pada panduan hidup agama Islam pun, tertulis, “Jangan katakan apa yang tidak kamu lakukan”.

Bagaimana kalian mengajak orang untuk berdonasi tapi anda sediri tidak?
Bayangkan, jika 1000 likes di akun Instagram anda ditukar 100 rupiah per like-nya, anda sudah dapat menyumbang 100.000 rupiah yang akan sangat bermanfaat sekali untuk pembelian masker waktu itu.

Jujur saja, saya sendiri merasa sangat hina, saya tidak menyumbang satu rupiah pun pada waktu bencana asap tersebut. Itulah bedanya “simpati” dan “empati”. Simpati adalah merasa kasihan tanpa berbuat apa-apa, sedangkan empati ditambah dengan tindakan nyata.

Itulah inti tulisan ini. Ingin tampil di social media sah-sah saja dan tidak ada salahnya dengan membuat hashtag dan mengganti profile picture, tapi jangan berhenti di situ saja, ikuti dengan kontribusi nyata. Kenapa saya panjang-panjang menulis tulisan ini dan mengurusi profpic dan status orang? Karena saya tidak ingin orang-orang berpikir bahwa mengganti profpic, membuat hashtag, atau membuat status saja dapat menyelesaikan masalah. Apa jadinya masa depan Indonesia kalau saat ada bencana semua orang merasa cukup berjuang dengan media sosial saja? Tidak ada yang membantu secara nyata. Ini tentunya pengingat khususnya bagi diri saya pribadi.

Terakhir, ada quotes yang pernah saya dengar dulu sewaktu zaman kuliah yang relevan dengan para pegiat atau mereka yang menyebut diri mereka “aktivis” generasi zaman sekarang ini.

“Lebih baik menyalakan lilin daripada hanya mengutuk kegelapan”

Well, sedikit penyesuaian,

“Lebih baik menyumbang 100 rupiah untuk membeli lilin daripada hanya selfie memegang lilin di luar negeri yang jauhnya 4567 miles dan merasa sudah “berjuang” dengan hashtag #MelawanAsap”.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

 

Tulisan ini juga dapat dibaca di :

http://www.kompasiana.com/uqyauthor/berjuang-dengan-hashtag_569db7d6af7a61670eeea0b1

Aby

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Selamat memasuki Tahun Baru 2016! Sudah terlalu lama saya tidak menulis, sehingga tampaknya saya harus memulai berlatih menulis lagi, nih, haha. Itulah yang menjadi alasan adanya tulisan ini, selain saya menetapkan bahwa resolusi tahun 2016 saya salah satunya adalah menulis minimal satu kali dalam seminggu. Haha. Gila.

Di awal tahun ini, saya akan menuliskan hal yang sangat saya cintai, yaitu tentang keluarga saya. Karena saya sudah pernah menulis cukup banyak cerita tentang Umy, Kak Boby, dan Nabil, kali ini saya akan menulis cerita tentang the one and only, my father, Aby. Yes, begitu cara kami menulis panggilan beliau dalam bahasa sms, bukan Abi atau Abbi, atau apapun. Tolong jangan dipermasalahkan layaknya insya Allah, insha Allah, atau inshaaAllah. Hm.

Aby.

Ayah tercinta, Saiful Rohman. Semenjak kami tiga bersaudara masih kecil, beliau sering kali berkata, “Sesuai arti nama Aby, pedang pengasih, kalau kalian lagi bandel, yang keluar sifat pedangnya, kalau kalian baik yang keluar pengasihnya”, dan memang benar, sikap beliau adalah pengejawantahan dari nama beliau. Tegas, keras, pengasih, penyayang, campur semua jadi satu. Yang tidak bisa saya lupakan adalah masa dimana beliau mengajarkan saya Matematika di meja bundar di rumah dengan “senjata” koran digulung di tangan beliau dan digunakan untuk “mengepruk” meja bundar atau kursi, tidak pernah sama sekali mengenai anggota tubuh kami. “Kepruk” adalah bahasa yang saya pelajari dari beliau juga, haha, hamper sama kayak mukul. Keprukan gulungan koran ke meja itu terjadi jika hal-hal ini dilakukan oleh kami tiga bersaudara saat proses belajar Matematika :

  1. Tidak konsentrasi, barusan diajarin udah langsung lupa/salah lagi.
  2. Curi-curi lihat TV.
  3. Curi-curi dengan mata memelas minta perlindungan dari Umy.

 

Khusus point terakhir, hal ini sering saya lakukan dan selalu gagal, karena khusus Matematika, Aby memegang hak prerogatif untuk mengatur metode belajar apa yang digunakan, kapan saya boleh beranjak dari meja bundar untuk tidur. Jam belajar dimulai sekitar habis Isya biasanya, hingga selesai ditentukan Aby, biasanya sekitar jam 9 sampai jam 10 malam. Untuk anak SD sudah cukup malam tampaknya. Tak jarang saya mengerjakan soal sambil menangis karena dimarahin Aby, karena udah ngantuk, atau karena salah-salah terus sewaktu dites sama Aby, haha. Terus biasanya bobo di pelukan Umy deh.

Hasil pembelajaran Matematika dengan Aby? 100% tanpa cela menurut saya. Alhamdulillah, saya pribadi selalu berada di kisaran peringkat 1-3 sewaktu SD, walaupun kalau ga salah pernah 2 kali di peringkat 4 sih, hehe. Sempat dijuluki tangan robot oleh teman saya sewaktu kelas 2 SD, karena setiap mencongak Alhamdulillah biasanya paling cepat dan benar, ditanya oleh orang tua-orang tua teman SD saya “Uqy belajarnya gimana sih?”, hingga saya menjadi perwakilan sekolah untuk olimpiade matematika level SD, walaupun hanya sampai level kota. Saya ingat sekali, gagal karena saya jawab dalam satuan dam (dekameter), sedangkan yang ditanyakan dalam satuan m (meter), maaf ya By, huhu. Namun puncaknya yang masih terpatri dalam otak saya adalah, saat menjadi perwakilan sekolah untuk lomba level SD se-Cilegon yang diadakan di SMP YPWKS. Lomba cerdas cermat, satu tim terdiri dari 3 orang, saya untuk Matematika, teman saya Kiko untuk IPS dan Epma untuk IPA. Satu soal yang masih saya ingat adalah saat babak rebutan terakhir, ada soal Matematika menghitung keliling dari bentuk seperti huruf H, dimana di salah satu sisinya ada ukurannya. Kira-kira seperti ini soalnya :

 

H

 

Saya ingat saya hitung tanpa mengotret, hanya di otak saja. Saya pencet belnya, semua orang panik, kaget, dan bingung. Saya jawab, 16 cm, benar. Chaos, dramatis, hahaha. Jurinya ikutan tepuk tangan. Bahkan sampai di akhir, guru Matematika saya sendiri bingung jawabnya bisa cepet gitu. Alhamdulillah menang juara 1 se-Cilegon. Bicara buku yang sering digunakan untuk belajar waktu dulu yang masih terpatri jelas di otak saya adalah buku bergambar wortel di depannya, berjudul “Agar Anak Pintar Matematika”. Buku itu yang sering digunakan saat dilatih oleh Aby.

Saya bisa menjawab cepat adalah karena dari kecil saya diajarkan Aby  konsep keliling itu ya keliling, bukan rumus 4xsisi, 2x(panjang+lebar), atau apapun itu. Keliling ya keliling, kalau tau semua sisinya ya tinggal dijumlahkan, mau bentuk bangunannya apapun, miring kek, gelombang kek, kalau ada yang tidak diketahui pasti ada di bagian lain yang bisa dijadikan acuan untuk mencari nilai dari sisi tersebut. Aby mengajarkan kami konsep dalam Matematika, tangga dari kilometer hingga millimeter, cara mengartikan sebuah soal  cerita menjadi persoalan matematika, pentingnya satuan, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kami bertiga selalu diajari, semenjak kelas 1 SD, dalam setiap mengerjakan soal selalu tulis Diketahui, Ditanyakan, Jawab. Wajib. Saat dites Aby ga nulis ini, niscaya kami ga akan pergi tidur malam itu. Lalu, tulis satuan di akhir, mulai buah, apel, hingga cm, m, km, liter, dll. Ga pake satuan? Silang merah pada buku tulis latihan kami yang berarti tes tambahan.

Buku paket dari sekolahan akan selalu bersih, karena beliau selalu mengajarkan untuk mengerjakan soal di buku tulis terpisah, tulis nomor halamannya dan judulnya, pisahkan buku latihan dengan buku sekolah. Seandainya ada coretan pun hanya boleh pensil, tidak boleh pulpen. Buku paket yang bersih ini kata Aby akan bisa digunakan oleh adik-adik, saudara-saudara, atau bahkan mungkin ke orang yang membutuhkan nantinya. Buku-buku SD-SMA bahkan, ini disimpan di kardus tertentu oleh Aby. Seingat saya, buku-buku dari zaman kakak saya SD baru dibagikan ke saudara-saudara dan orang yang membutuhkan saat saya kuliah tingkat 2 atau 3, terawat. Super.

Hal keren lain tentang Aby adalah pengetahuan agamanya. Saya sangat bersyukur sekali memiliki ayah super keren seperti beliau. Saya masuk pesantren (MAN Insan Cendekia Serpong) sejak SMA, sedangkan ayah saya masuk pesantren sejak kelas 3 SD, sudah tidak tinggal seatap dengan orang tuanya. Kitab Kuning, bahasa Arab, Nahwu Sharaf, bisa, bahkan dulu surat-suratan dengan Aby-nya Aby (kakek saya) menggunakan bahasa Arab Pegon, haha, saya ga ada apa-apa pokoknya. Kerennya lagi, dengan ilmunya, beliau justru tidak gampang membid’ahkan atau mengkafirkan golongan yang lain. Super. Terkait pendidikan agama, saat kakak saya UAS zaman SD, ada jawaban kakak saya yang disalahkan gurunya karena tidak sesuai text book yang digunakan, kalau tidak salah terkait jumlah rukun sholat (atau jumlah huruf hijaiyah ya? Saya agak lupa). Aby sampai mengirim surat ke guru agama kakak saya yang menjelaskan bahwa mengenai hal tersebut memang ada pendapat berbeda-beda. Akhirnya gurunya pun mengerti, bahkan guru agama tersebut selalu mengenang masa itu ketika mengajar saya ataupun adik saya, Nabil. Kebiasaan Aby ini juga saya contoh sewaktu adik saya disalahkan oleh guru SMAnya pada pelajaran Matematika karena tidak menggunakan cara yang dicontohkan oleh gurunya walaupun jawabannya benar, saya kirimin surat gurunya, haha.

Terkait hobi, hobi Aby adalah membaca. Pertama, Aby selalu membawa bacaan setiap pergi kemanapun, supaya tidak buang-buang waktu yang berharga katanya, daripada sekedar menunggu. Ke WC pun bawa koran, yang mana ini dicontoh kakak dan adik saya walaupun level mereka adalah komik. Quotes dari Aby sejak kami kecil adalah, “Anggaran buku tidak terbatas”. Tentu bukan untuk komik, karena sewaktu TK sampai kami hanya beli komik setiap habis bagi rapot dan hanya boleh membaca saat liburan sekolah. Begitu cawu atau semester baru mulai, komik-komik tersebut dimasukkan lagi ke dalam kardus kemudian ditaro lagi di atas lemari yang sangat tinggi dan kami ga bisa mengambilnya. Satu lagi, 23 tahun saya hidup seingat saya, belum pernah sekalipun Aby keluar dari Gramedia dengan tangan kosong, iseng sekalipun. Di rest area kalau lihat ada bazar buku, juga beli. Inilah mungkin yang membuat pengetahuannya sangat luas. Aby selalu mengajarkan kepada kami, temenan itu harus bisa dari level penjudi sampai ustadz, sehingga selain kami diajarkan ilmu agama, mengaji, dan belajar, kami sejak SD sudah diajarkan bermain truf, bukan hanya cangkulan, haha. Keren.

Inilah mengapa saya sangat mencintai dan menghormati Aby. Jika saya ditanya role model nomor satu saya siapa untuk seorang laki-laki (diluar Nabi Muhammad SAW, karena setiap muslim tentunya harus menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai role model nomor satu), tanpa ragu, Aby adalah jawabannya. Mungkin disusul Kak Boby, Nabil, Gus Dur, Gus Mus, Cak Nun, Pramoedya Ananta Toer, Pak Habibie, dan tokoh-tokoh keren lainnya.

 

Baiklah. Sekian dulu ya. Insya Allah kita berjumpa lagi di minggu berikutnya. Do’akan Saya istiqomah dalam resolusi saya, hahaha.

 

Wassalamu’alaikum Wr.wb.

Recruitment Test Danone MTStar 2014

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb.,

 

Tabik semua! Sudah lama rasanya tidak menulis, walaupun memang begitu adanya, fufufu. Sebenarnya alasan saya lama tidak menulis adalah karena semenjak 2014 ini saya sudah menjadi budak korporat, Alhamdulillah. Ya, ya, saya mengerti itu bukan alasan, Mas Adhitia Mulya pun seorang pekerja korporat garis keras, namun apalah daya anak cucu Adam seperti saya ini memang tempatnya malas dan lupa.

Baiklah, tulisan ini dibuat adalah karena tidak lain dan tidak bukan karena rasa ingin berbagi kepada teman-teman semua yang hendak mengikuti recruitment test salah satu perusahaan terbaik di dunia, Danone. Ketika saya bilang terbaik disini, bukan hanya saya berbicara definisi baik seperti dalam konteks kalimat “Christiano Ronaldo adalah pemain sepak bola terbaik di dunia”, namun juga dalam konteks “Mencuri adalah perbuatan yang tidak baik, sedangkan menabung adalah kebiasaan yang baik”, ataupun dalam konteks “Pak Jokowi dan Pak Prabowo, keduanya adalah orang baik“. Anda pendukung mana saya tidak peduli.

Oya, satu lagi, karena saya disogok sohib sekamar saya waktu zaman SMA (Baca : Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Serpong) dulu, Putra, dengan decant Joop! karena telah membantu memberikan info-info kepada pacarnya mengenai tes masuk Danone ini. Saya do’akan semoga pacarnya Putra, yang nama panggilannya sama dengan istri saya, Rara, bisa berhasil tes masuk Danone.

Ehm, baiklah, sebelumnya, saya jelaskan sedikit latar belakang saya, Alhamdulillah saya adalah salah satu orang yang berhasil lolos recruitment test Danone, untuk MTStar angkatan 2014. Jadi, tulisan disini ya pure berdasarkan pengalaman pribadi saya selama mengikuti recruitment test-nya. Jadi, seperti biasa, saya tidak menerima protes, apalagi pertanyaan yang mengaitkan Aqua dan konspirasi Yahudi, ataupun Upin Ipin dan tipu daya kaum zionis. Saya hanya menerima pertanyaan, yang berkaitan dengan Danone dan recruitment process-nya, yang insya Allah akan saya jawab semampu saya dan sepengetahuan saya, karena sekarang saya sudah tidak bekerja di Danone lagi.

Saya berasumsi orang-orang yang membaca tulisan saya kali ini adalah orang-orang yang ingin sekali masuk Danone. Bukan begitu? Jadi sudah pada tahu dong apa itu MTStar. Kalian tidak tahu apa itu MTStar? Kalian yakin benar ingin masuk Danone? Ayolah. Baiklah, saya masih baik, MTstar adalah Management Trainee Star. Tanpa berpanjang lebar lagi, berikut tahap-tahap yang saya alami kemarin sewaktu MTStar 2014. Check it out!

 

  1. CV screening

Buat CV yang bagus, sertakan semua kelebihan ataupun prestasi yang anda miliki, IPK, sertifikat IELTS, dan lain sebagainya. Oya, karena motto dari Danone adalah “We have something special inside” usahakan buat CV yang formal namun juga dapat menunjukkan sesuatu yang spesial dari diri kalian. Selfie kalian tidak termasuk, walaupun bersama Pak Jokowi, terlebih lagi bersama Fadli Zon. Sekedar contoh, saya dulu membuat seperti cerpen sepanjang satu halaman yang menceritakan kehidupan saya dari kecil. English, please!

 

  1. Written Test

Tahapan ini berisi psikotest, tes Bahasa Inggris (TOEIC), dan rangkain tes tertulis kepribadian yang lainnya.

Uqy’s tips : Saya tidak peduli kalian anak ITB, UI, UGM, atau universitas lainnya, jangan angkuh. Sekali lagi jangan angkuh. Pertama, orang angkuh dan sombong itu tidak disukai Allah SWT dan kemungkinan besar adalah calon penghuni neraka. Ga percaya? Bacalah ayat ini.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (angkuh).” (QS. Luqman {31}:18).

 Tujuan kalian masuk Danone kan? Bukan masuk neraka? Kalau kalian sombong, angkuh, congkak, dan malah ga mau belajar, udah mah ga masuk Danone, malah masuk neraka nanti, hiiiy.

Baca buku soal-soal psikotest, contoh-contoh TOEIC, dan lain sebagainya. Terakhir anda menggunakan otak anda untuk psikotest mungkin saja zaman test masuk kuliah. Kecuali untuk anda pendukung atau anggota aktif ISIS, terakhir menggunakan otak anda tentu saja sebelum bergabung dengan ISIS.

 

  1. FGD

Focus Group Discussion.

Uqy’s tips : Ingat ya, Danone ini perusahaan terbaik. Merasa pintar sendiri dan yang lain bodoh? Coret. Sombong? Coret. Ingin banyak bacot sendiri? Coret.

Uqy’s tricks : Bukan menjadi orang yang menonjol sendiri, tapi usahakan menjadi moderator. Arahkan pembicaraan semenjak dari awal. Biasanya akan ada 5-10 detik keheningan di awal diskusi. Detik-detik awal sangat menentukan. Beranikan diri.

Contoh : “Selamat pagi teman-teman, nama saya Uqy, berhubung waktu kita tidak cukup banyak untuk mendiskusikan masalah ini, saya pikir harus kita mulai dari sekarang ya. Ada yang punya pendapat? Kalau tidak ada, boleh saya mulai duluan ya?”

Ini salah satu trik tercanggih penemuan saya berdasarkan pengalaman beberapa FGD yang pernah saya lalui. Ada dua kelebihan dari trik ini.

Pertama, memulai pembicaraan pertama kali akan meningkatkan percaya diri anda, begitu kata ayah tercinta saya yang selalu mengajarkan kepada saya, “Kalau kenalan sama orang, usahakan yang pertama memulai. Itu namanya sopan dan kamu yang “menang” ke depannya”. Belakangan saya mengerti, arti menang disini adalah ke depannya, saya yang enak untuk memulai pembicaraan, meminta bantuan, dan lain-lain.

Kedua, setelah anda tanya seperti itu biasanya tidak akan ada yang menjawab tidak, dan ke depannya anda semacam memiliki hak untuk menyela dan mengendalikan alur diskusi.

Trik tambahan, saling berkenalan dengan para peserta diskusi di grup kalian sebelum dimulai, ingat baik-baik namanya, buatlah alur diskusi yang nyaman, dan saling mempersilakan. Sewaktu saya FGD Danone, grup saya terdiri dari 6 orang, dan 6-6nya lolos semua ke tahap selanjutnya! Be humble! Danone is that kind of company.

 

  1. HR Interview

Selayaknya interview HR pada umumnya.

Uqy’s tips : Kenakan pakaian yang formal namun tetap terlihat anak muda yang bersemangat. Tentu saja yang saya maksud dengan anak muda yang bersemangat bukan berarti anda boleh berpakaian seperti One Direction ataupun SM*SH. Pelajari apa itu Danone. Danone terbagi menjadi berapa perusahaan. Apa value Danone. Mengapa kamu memilih posisi/divisi itu. Apa pengalaman organisasi/kerja kamu. Mengapa Danone harus memilih kamu. Kelebihan dan kekurangan kamu. Siapkan mental seperti ingin bertemu calon mertua. Maaf, berlebihan. Suspense-nya tentu tidak sekuat itu.

 

  1. User Interview

Interviewer kalian adalah level Senior Manager. Di Danone, tipe di level ini adalah tipe-tipe yang serius dan “sangar” saat kesan interviewnya, tapi sebenernya saat kalian udah masuk mereka semua super baik. Maklum ya, wajar, soalnya nanti orang-orang inilah yang akan menjadi mentor/buddy kalian selama setahun program MT nanti, merekalah atasan kalian langsung.

Uqy’s tips : Pelajari baik-baik. Perdalam jawaban kalian dengan detail untuk pertanyaan-pertanyaan yang sama yang diajukan saat HR interview. Tambahan, apa yang kalian tahu tentang divisi ini? Emang kerjanya divisi ini ngapain? Apa yang bisa kamu sumbangkan untuk divisi ini? Ilmu kamu bakal kepake disini? Yang bener? Bener? Yakin? Udah tes di mana selain di Danone? Kalau keterima dua-duanya pilih mana? Bener ga pilih yang lain? Kenapa segitu pengennya sih sama Danone? Pressure is strong in this one.

 

  1. Director Interview

Mereka ini tentu saja merupakan atasan dari para user kalian. Merekalah yang memegang peranan penting apakah kalian dipandang cocok untuk masuk ke timnya.

Uqy’s tips : Siapkan jawaban dari pertanyaan tak terduga, which means, jawaban kalian selain berbobot juga harus menarik. Orang-orang semacam ini dalam setahun mungkin pernah mewawancarai lebih dari 30 kandidat, they know they should hire you or not only in less than 30 seconds.

Contoh pengalaman pribadi saya waktu itu ya, saya ditanya kayak begini.

Interviewer saya orang Spanyol, namanya Xavi, SSD Direct material Director. Hi, Mr. Xavi!

“Okay, I don’t care which university did you go, which major did you take, how great your GPA is. I only want to know, why I should hire you? What make you difference from another participants? I have interviewed one person before you, your answers will determine the result.”

Pretz. Chaos juga. Haha.

Terus saya jawabnya gini, “Because I am a hard worker, discipline, and I will never stop and always do my best to achieve my target”

Terus dia jawab lagi, “Everyone can say that…”

Terus karena udah mentok beneran, akhirnya saya mulai nekat…

“Do you know BlitzMegaplex at Grand Indonesia Shopping Mall?”

Dia jawab, “Yep.. Why?”

“I proposed a girl to marry me with a self made movie. I rent the room, I invited her friends, I showed my movie there”

…… *hening* *daun berguguran* *smile*

“Now, we’re talking”

Dan berlanjutlah obrolan itu sekitar hingga satu jam lebih. Setelah keluar dari Danone pun, Mr. Xavi cerita ke saya bahwa yang membuat dia merekrut saya adalah cerita itu, bahkan hingga reuni sebelum pernikahan saya pun Mr. Xavi masih membicarakan hal itu, hehe. Danone indeed has something special inside. Thank you, Mr. Xavi!

 

  1. VP interview

VP ini merupakan atasannya director lagi. Mereka adalah orang kasta tertinggi dalam sebuah divisi di Danone. Jika kita adalah amoeba, makhluk dekomposer, mereka ada di rantai makanan tertinggi yaitu singa jantan, mereka report langsung ke President Director, yang berarti dalam perumpamaan ini adalah singa betina.

Uqy’s tips : Orang-orang ini akan menilai kamu dilihat dari sisi attitude kamu, karena sebenernya secara tidak langsung kalau kamu ada di tahap ini, director kamu sudah setuju kamu masuk ke dalam timnya. Tetap saja, orang inilah yang memberi lampu hijau atau tidaknya kamu bekerja di Danone. Sopan, hargai waktu mereka yang sangat sibuk untuk bertemu kroco baru lulus seperti kita.

Contoh pertanyaan yang saya dapat : “What kind of improvement that you had done in your previous company or in a college life that related to efficiency and effectivity?

 

  1. Personality test

Semacam online test yang berisi psikotest pola gambar, kepribadian, dll. Mungkin untuk lihat konsistensi hasil tes tertulis kamu ya. Makanya, jangan suka menipu kalau tes kepribadian.

Always be yourself, except if you can be a Batman, always be Batman.

 

  1. Medcheck

Jauhi diri dari masakan Padang, olahraga teratur, minum Aqua yang banyak.

 

    10.   Offering

One of the best in FMCG class. Benefitnya banyak banget, tunjangan kesehatan dan untuk keluarga oke banget, training, ke luar negeri sering, apalagi ke luar kota. Katanya sih Danone ini tempat orang-orang yang ingin punya kehidupan stabil dan work-life balance. Banyak dari FMCG lain yang pindah ke Danone karena hal ini. Top.

 

Baiklah, sudah cukup banyak. Saya lelah. Ada pertanyaan? Ajukan di tulisan ini atau boleh lewat twitter ke @uqyauthor supaya lebih cepat dijawab.

Mungkin saja setelah ini ada tulisan saya tentang apa yang saya alami saat Induction Danone ataupun perjalanan hidup saya selama kurang lebih 5 bulan di Danone.

Seperti biasa, di akhir tulisan saya selalu menggurui. Life lesson kali ini adalah, selalu persiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk hal yang ingin kamu capai. If you fail to prepare, then you prepare to fail. #azek

Oya, mau dipercaya tulisan saya disini Alhamdulillah, mau ga juga monggo.

Da aku mah apa ateuh.

 

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.